Sejarah Perkembangan Bioskop di Indonesia Hingga Saat Ini

Thursday, January 11th 2018 - Entertainment & Travel

PESTADISKON, JAKARTA - Bicara soal film gak akan jauh kaitannya sama bioskop, kerena sebuah film gak akan tayang jika bioskop gak ada. Mungkin sebagain dari kita pernah ngerasain nonton film di bioskop dengan fasilitas yang minim banget, kaya kursi masih pake kursi plastik, belum ada AC, sampe nomer kursi yang masih belum ada nomernya, jadi kalo mau dapet spot terbaik harus berebut sama orang lain, dan masih banyak lagi cerita tentang bioskop yang berbeda banget sama bioskop di era sekarang yang penuh dengan kenyamanan dengan beragam fasilitas penunjangnya.


Pada era awal perkembangan film di Indonesia ketersediaan bioskop sangatlah minim, jadi buat kalian yang mau nikmatin film terbaru harus berjuang dulu ke bioskop yang jaraknya bisa sangat jauh dari tempat kalian tinggal. Bentuk dari bioskop pada awal kemunculannya pada awal tahun 1990-an sangatalah sederhana, hanya menggunakan bilik yang wujudnya kurang lebih mirip sama layar tancep.


Ngomongin soal layar tancep, inilah hiburan buat para rakyat kalangan bawah untuk menikmati sensasi nonton film layaknya di bioskop. Pake layar atau kelir putih besar yang digunakan untuk media menontonnya ditemani dengan pemandangan langit malam ditemai dengan lampu petromaks abang tukang kacang dan tentu banyak kata untuk menggambarkan sebuah layar tancep ini.


Oke, balik lagi ke topik. Film lokal pertama yang di putar di bioskop adalah film Loetoeng Kasaroeng di bioskop Majestic yang berada di Bandung pada tanggal 31 Desember 1926. Namun pemutaran film ini jarang disaksikan oleh masyarakat pribumi, dimana bioskop saat itu masih didominasi oleh penjajah Belanda.
Bioskop pertama di Jakarta ini adalah gedung bioskop yang berada di dekat monumen nasional (Monas), namun bentuknya masih belum permanen. Lambat laun gedung-gedung bioskop makin bertambah jumlahnya karena makin tinggi animo masyarkat untuk menyaksikan sebuah film, ya secara dulu nonton film adalah hal yang langka, jadi gak heran kenapa antusiasme masyarkaat tinggi banget buat nonton film.


Awal kemunculannya, gedung bioskop bisa dihitung dengan jari, namun kemudian seiring berjalannya waktu, gedung bioskop di Indonesia jumlahnya mulai bertambah menjadi 225 pada tahun 1936. Pada tahun 1942 – 1945 jumlah bioskop sudah mencapai 300, namun karena agresi yang dilaukakn Jepang jumlahnya berkurang menjadi 52 saja yang tersebar di Jakarta, Malang, Yogyakarta, Semarang, dan Surabaya.


Setelah kemerdekaan bioskop mulai menggeliat lagi, ini ditandai dengan muncul tiga lembaga perfilman, yaitu Perusahaan Produksi film, perusahaan peredaran film, dan PERFINI (Perusahaan Film Nasional Indonesia). Kemudian Bioskop Metropole resmi beroperasi ditandai dengan pemutaran film Annie Get Your Gun Menandai mulai beroperasinya Metropole di kawasan Menteng, Jakarta.


Rahmi Rachim Hatta - istri Wakil Presiden Mohammad Hatta, H.Agus Salim dan Sultan Hamengkubuwono IX meresmikan bioskop berkapasitas 1.500 tempat duduk. Bioskop bergaya Art Deco itu dirancang oleh Liauw Goan Seng. Dalam perjalanannya Metropole bolak-balik ganti nama. Warga Jakarta sempat mengenalnya dengan sebutan bioskop Megaria.


Gara-gara politik sempat terjadi pemboikotan film-film Amerika. Beberapa gedung bioskop sempat dibakar. Film dari Rusia, India, Melayu, Filipina mulai banyak beredar. Jika pada tahun 1960 jumlah bioskop di Indonesia sudah mencapai 890, pada tahun menjelang peristiwa G30S PKI, hanya tinggal 350 saja. Pada awal Orde Baru tahun 1966, film Amerika kembali bisa ditonton masyarakat umum.


PPBSI dan beberapa organisasi sejenis sepakat melebur menjadi GPBSI (Gabungan Pengusaha Bioskop Seluruh Indonesia) pada Desember 1970. Di sisi lain akibat dibukanya kesempatan untuk mengimpor film jumlah bioskop pada tahun 1969-1970 di Indonesia tercatat 653 bioskop. Jumlah itu meningkat pada tahun 1973 menjadi 1.081.


Pada tahun 1987 muali diperkenalkan bioskop sinepleks yang dikenal dengan “21” yang didiriakan oleh Alm. Sudiwikatmono. Kartika Chandra Theater di Jalan Jenderal Gatot Subroto adalah salah satu yang pertama memperkenalkan konsep satu gedung empat ruang bioskop. Penjaga loket dan pintu bioskop yang di jaga oleh para wanita – wanita cantik.


Jumlah sinepleks makin banyak hingga ke kota lain. Sinepleks dibangun di pusat perbelanjaan, kompleks pertokoan atau di dalam mal yang notabene menjadi tempat nongkrong anak muda.
Pada tahun 1990 jumlah bioskop dengan model sinepleks terus bertambah hingga mencapai 3.048 jumlah layar. Dengan fasilitas yang nyaman tentu membuat penonton bioskop lebih memilih menonton film di sinepleks, dan ini yang membuat bioskop non “21” menjadi bertumbangan.


Dengan gempuran film Hollywood ternyata membuat efek yang negatif bagi dunia film di Indonesia karena hampir semua yang diputar adalah film buatan Hollywood dan keadaan ini diperparah dengan masuknya film asal India yang menawarkan kualitas film yang lebih bagus dibandingkan dengan film lokal.


Ditahun 2000-an mulai sinepleks 21 meluncurkan bioskop dengan konsep satu kelas di atas 21 biasa, XXI dan The Premiere. Tahun 2007 Blitzmegaplex hadir pertama kali di Paris Van Java, Bandung. Selanjutnya di Grand Indonesia Jakarta. Konsepnya sama, multilayar, namun dengan teknologi audio dan visual yang lebih canggih. Juga pelayanan yang lebih memudahkan serta menyatu dengan sarana lain di sekitar bioskop seperti restoran.


Di awal tahun 2000an juga adalah kebangkitan per-filman indonesia dengan munculnya film "Ada Apa Dengan Cinta " disusul dengan film horor lokal " Jelangkung ". namun di awal tahun 2000 juga muncul isu yang merugikan. Isu pembajakan pada tahun 2000-an sangatlah besar – besaran, jutaan keping CD terjual tanpa kendali dan ini yang membuat bioskop menjadi tersaingi.


Di saat ini bioskop sinepleks masih tetap menguasai semua bioskop di tanah air dengan beragam keunggualan masing – masing. Teknologi saat ini juga membantu kita menikmati film dengan lebih nyaman lagi, sebut saja teknologi 4D atau bahkan lebih yang mampu membawa kita merasakan sensasi menikmati film dengan rasa yang berbeda.


Namun sepertinya susah untuk menggantikan bioskop dikemudian hari, karena menonton langsung di bioskop memberikan kenyamanan dan sensasi yang berbeda.

Source

(DB/PD)


PESTADISKON, JAKARTA - Mau tau perkembangan bisokop di tanah air? berikut adalah perkembangannya dari awal hingga saat ini


Related Articles

Partners