Potensi UMKM Di Indonesia

Wednesday, May 30th 2018 - Home Appliances & Utilities

Usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) memiliki peranan yang sangat vital didalam pembangunan dan pertumbuhan ekonomi, tidak hanya di negara-negara berkembang seperti Indonesia tetapi juga di negara-negara maju. Di Indonesia peranan UMKM juga memiliki peranan yang sangat penting dalam mengatasi masalah pengangguran. Tumbuhnya usaha mikro menjadikannya sebagai sumber pertumbuhan kesempatan kerja dan pendapatan. Dengan banyak menyerap tenaga kerja berarti UMKM juga punya peran strategis dalam upaya pemerintah dalam memerangi kemiskinan dan pengangguran.

 

Perkembangan UMKM di Indonesia terus meningkat dari tahun ke tahun. UMKM telah menjadi sebuah kekuatan ekonomi baru dalam menyumbang Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia. Indonesia dengan jumlah penduduk lebih dari 250 juta jiwamemiliki sekitar 117,68 juta tenaga kerja. Dalam ekonomi Indonesia UMKM adalah kelompok usaha yang memiliki jumlah palinf besar. Jumlah pelaku usaha industri UMKM jumlah pelaku usaha Indonesia termasuk paling banyak diantara negara lainnya, termasuk sejak 2016 nanti jumlah pelaku UMKM di Indonesia akan terus mengalami pertumbuhan.

 

Walaupun saat ini UMKM mengalami perkembangan yang cukup menggembirakan namun bukan berarti tidak ada UMKM yang tidak aktif atau UMKM yang gulung tikar. Banyak hal yang menyebabkan UMKM di Indonesia mengalami kebangkrutan yang di karenakan diantaranya yaitu operasional tidak berdasarkan prinsip, nilai dan azas UMKM, buruknya menajemen UMKM baik manajemen keuangan maupun manajemen SDM serta minimnya pertisipasi anggota akibat kurangnya pendidikan akan perkoperasian.

 

Menelik dari penelusuran redaksi republika.co.id berdasarkan data BPS per agustus 2017 pertumbuhan produksi industri manufaktur mikro dan kecil di kuartal II-2017 sebesar 2,5 persen. Realisasi ini anjlok dari capaian pertumbuhan di kuartal I-2017 sebesar 6,56 persen. Hal ini menunjukan kondisi UMKM yang kurang begitu baik tahu ini. “Kalau UMKM-nya pertumbuhannya kurang bagus, pertumbuhan ekonominya sulit mencapai target 5,2 persen, apalagi di 2018 targetnya 5,4 persen,” kata Bhima.

 

Timbulnya beragam permasalahan sangat berkaitan erat dengan keberadaan pendamping atau fasilitator dalam mendampingi UMKM. Minimnya bimbingan menjadikan UMKM sulit untuk berkembang karena faktor-faktor tersebut di atas. Dengan kata lain, kemajuan UMKM sangat ditentukan oleh besar kecilnya peran pendamping di lapangan. Dilansir dari kompasiana.com berdasarkan pengamatan dan pengalaman dakam memberikan konsultasi atau pendampingan, terdapat beberapa jenis kendala atau permasalahan yang sering dikeluhkan oleh UMKM, yaitu :

1. Kualitas sumber daya manusia UMKM yang masih rendah serta minimnya pengetahuan dan kompetensi kewirausahaan mengakibatkan rendahnya produktivitas usaha dan tenaga kerja. Hal tersebut juga tampak pada ketidakmampuan mereka dalam hal tata tertibpencatatan atau pembukaan.

 

2.  Banyak UMKM yang belum memiliki badan hukum yang jelas. Sebagian UMKMjuga kurang memiliki pengetahuan tentang aspek legalitas dan perizinan, termasuk persyaratan yang harus di penuhi dan prosedur yang di tempuh dalam proses pengurusannya.

 

3. Kurangnya inovasi produk. UMKM masih kurang menguasai teknologi, manajemen, informasi dan pasar. Sedangkan untuk memenuhi kebutuhan tersebut, UMKM memerlukan biaya yang relatif besar, apalagi jika dikelola secara mandiri.

 

4. UMKM juga masih menghadapi kendala dinilai kendala dalam hal akses modal pemdanaan. Akibatnya, UMKM kesulitan dalam meningkatkan kapasitas usahanya atau mengembangkan produk-produk yang mampu bersaing. Sebagian besar UMKM belum cukup tersentuh oleh pelayanan lembaga keuangan formal (bank), shingga tidak sedikit dari UMKM terpaksa memanfaatkan jasa lembaga keuangan mikro yang tradisional  meskipun dengan beban dan resiko yang cukup memberatkan demi mempertahankan kelangsungan hidup usahanya.

 

5. Kurangnya tenaga pendamping di lapangan menyebabkan banyak UMKM yang belum tersentuh layanan konsultasi dan pendampingan. Dengan demikian, sangat dibutuhkan kehadiran lembaga pengembangan bisnis untuk menfasilitasi pelaku UMKMd dan memberikan layanan sesuai kebutuhan mereka.

 

Sebagaimana diberitakan bahwa pemerintah perlu meningkatkan pendampingan terhadap usaha mikro kecil, dan menengah dengan meningkatkan anggaran untuk berbagai kementrian atau lembaga yang terkait dengan UMKM. Turunkan kemiskinan sementara itu, sekretaris Kementrian Koperasi dan UKM, Agus Muharram, meningkatkan bahwa problema kemiskinan di tanah air terus berupaya menurunkan angka kemiskinan itu dengan berbagai pendekatan.


Kemenkop dan UKM, pendekatannya lebih kepada bagaimana meningkatkan pelaku usaha khususnya UMKM supaya bisa meningkat usahanya dan juga bisa memperluas lapangankerja. Dengan memperluas lapangan kerja dan meningkatkan usahanya tentu kemiskinan akan otomatis berkurang.


“Jadi, sudah jelas bahwa program di Kemenkop dan UKM diarahkan untuk tujuan mengurangi angka pengangguran dan kemiskinan serta mendorong pertumbuhan ekonomi nasional,” dan UKM juga melakukan kerja sama dengan sejumlah kementrian lembaga terkait termasuk asosiasi.


Langkah-langkah itu, di antaranya kerja sama dalam ini menciptakan kredit bagi KUKM dengan bunga murah. Kemudian, mendorong pihak swasta seperti Hipmi dan Kadin berbarter dalam hal pelatihan kepada para pelaku UKM. Kemudian juga dengan pihak lain, seperti perguruan tinggi dalam mengembangkan kewirausahaan. 

PESTADISKON, JAKARTA - UMKM tak hanya ada di negara maju, di negara berkembang seperti Indonesia telah menjadi pengaruh perekonomian di negara tersebut. salah satunya kini UMKM telah menjadi pengaruh besar bagi kehidupan dan menanggulagi angka penganggura


Related Articles

Partners